Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates adalah salah satu paroki yang ada di kesukupan Agung Semarang yang terletak di sisi paling ujung ujung barat daya berbatasan dengan Keuskupan purwokerto.Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik ini terletak di Jl. Sanun Nomor 23 Wates Kulon Progo, yang juga menjadi alamat Kantor Pusat pelayanan Kevikepan Yogyakarta Barat sejak dimekarkannya Kevikepan Yogyakarta Barat dan Yogyakarta Timur pada tanggal 7 Oktober 2020. Di tahun Yubileum 2025 , Gereja Induk Paroki Wates juga ditunjuk sebagai salah satu Porta Sancta, tujuan perjalanan rohani para peziarah menuju pengampunan dan pertobatan.
Sebelum menjadi paroki mandiri di tahun 1953, Sekitar tahun 1920 pada awalnya pelayanan pastoral oleh Pastor Van Driessche, SJ di penggalian tambang mangaan Kliripan, Hargorejo Kokap, Kulon Progo dibantu oleh seorang katekis dari Yogyakarta bernama Sujali dan juga mendapat dukungan dari administratur tambang yang bernama Mr. Yong Yan Ping dan setelah itu dilanjutkan oleh Pastor Stater, SJ. Dalam mengawali karya misinya, Pastor Strater, SJ. mendirikan beberapa sekolah, yaitu di Wates, Kalimenur, Milir, Kokap, dan Bonoharjo. Seiring berjalannya waktu, banyak murid-murid yang bersekolah di sana yang minta dipermandikan, dan disusul juga oleh beberapa orang tua dari para murid. Hal ini terjadi di daerah Sebokarang, Penggung, Ngulakan, Karangwuni dan Nggletak.
Saat itu, umat Katolik di Wates dan sekitarnya belum memiliki gereja sendiri, maka peryaan Ekaristi diadakan di ruang kelas gedung sekolah Hollandsce Cursus. Melihat perkembangan umat bertambah cukup pesat, terutama di daerah Bonoharjo dan Kokap, dan tempat ibadah di ruang kelas Hollandsche Cursus menjadi penuh sesak saat perayaan Ekaristi, maka timbul lah gagasan untuk mendirikan gedung gereja sendiri. Pada akhirnya berkat usaha T. Sontopratiknyo dapat dibeli sebidang tanah milik Wongso seorang pensiunan tentara di dusun Terbahsari. Pembangunan gereja dimulai dimulai pada November 1934, kala itu dipercayakan kepada Seyadiharjo dan Atmosukiyono. Dalam usaha pembangunan gereja itu, peran serta Suherman ketua dari Moeda Katolik Indonesia, dan peran aktif Pengurus Gereja Wates (PGW) yaitu Sugiarto, Sumandar dan martinus Adisumarto, pada kahir tahun 1935 Gereja Wates berhasil didirikan, lalu pada tanggal 31 Maret 1936, gedung gereja Wates diberkati dan diresmikan pemakaiaannya oleh Mgr. Willekens, Sj dengan nama Pelindung Santa Maria Bunda Penasihat baik. Pada saat itu Gereja Wates masih menjadi “Stasi kunjungan” dari Gereja Kotabaru Yogyakarta, namun karena perkembangan umat dan inisiatif yang tinggi, maka di tahun 1953 memiliki pastor yang menetap dan di tahun itu juga Mgr Albertus Soegijapranata, SJ menetapkan Wates sebagai paroki mandiri dengan pastor pertama yang bernama N. Tjiptoprawoto, Pr.
Letak geografis paroki Wates di sebelah utara berbatasan dengan Paroki Nanggulan, sebelah Timur laut berbatasan dengan Paroki Sedayu, sebelah tenggara berbatasan dengan paroki Bonoharjo, dan di sebelah barat berbatasan dengan paroki purworejo. Paroki Wates meluas di 5 kecamatan di Kulon Progo yaitu Pengasih, Wates, panjatan, Temon dan Kokap. Sebelumnya Bonoharjo juga termasuk di dalam wilayah Paroki Wates dan menjadikan Paroki Wates sebagai paroki dengan wilayah teritorial terluas dibandingan 3 paroki lain yang ada di Kulon Progo. Namun berkat pesatnya perkembangan umat serta semangat dan inisiatif dari umat wilayah Bonoharjo maka pada tanggal 15 Agustus 2023 paroki Bonoharjo secara resmi menjadi Paroki Mandiri dan terpisah dari Paroki Wates. Akses menuju paroki Wates juga beragam, selain dapat menggunakan kendaraan pribadi, Paroki Wates ini juga dekat dengan fasilitas layanan transportasi umum yaitu Stasiun Wates yang berjarak 850 meter dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki 12 menit, lalu ada juga Bandar Udara Yogyakarta Internasional Airport yang berjarak sekitar 14 km dan dapat ditempuh dengan waktu 17 sampai dengan 25 menit.
Jumlah total umat di paroki Wates saat ini mencapai 2.163 umat dengan rentang usia terbanyak yaitu usia 20 sampai dengan 24 tahun dan usia 55 tahun sampai dengan 59 tahun. Sumber pencaharian umat Paroki Wates sendiri juga bermacam-macam, namun menurut data Umat, mayoritas sumber pencaharian paling tinggi adalah Wiraswasta, Petani atau Pekebun. Paroki Wates sendiri juga terbentuk dari beberapa Wilayah yaitu Wilayah Wates I yaitu St. Fransiskus Xaverius, Wilayah Wates II St Pius X, Wilayah Wates III Philipus, Wilayah St. Yusuf Kokap dan Wilayah St. Carolus Borromeus Temon. Selain Gereja induk, Paroki Wates juga memiliki 3 bangunan kapel yang terletak di dua Wilayah dan satu lingkungan, mari kita bahas satu per satu.
Wilayah Kokap memiliki Kapel sendiri yaitu Kapel Santo Yusuf Kokap yang terletak di dusun Ngaseman, kalurahan Hargorejo, kapanewon Kokap. Kapel ini selesai dibangun dan diberkati pada tanggal 26 Juni 1958 dan hingga saat ini kapel inilah yang menjadi pusat Peryaan Ekariti umat di Wilayah Kokap. Selain Kapel, Wilayah Kokap juga memiliki taman doa yaitu Taman Doa Kebon Dalem Yusuf Maria yang meskipun terpisah namun letaknya tidak jauh dari Kapel. Taman doa ini diresmikan pada tanggal 6 November 2022 yang juga pada saat itu sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Kevikepan kembar Yogyakarta Barat dan Yogyakarta Timur dan menjadi tanda dimulainya tempat ziarah baru di Kokap. Perayaan Ekaristi di Kapel wilayah Kokap setiap minggunya dilaksanakan pada hari Sabtu jam 5 sore, sedangkan untuk Taman Doa Kebon Dalem Yusuf Maria dilaksanakan setiap malam Kamis pahing yang biasanya akan diiringi dengan seni Slaka.
Wilayah Kokap sendiri menyumbang 268 umat dengan 122 keluarga dan terbagi di 5 lingkungan dengan luas keseluruhan Wilayah kurang lebih 62 km persegi dan menempatkannya sebagai wilayah terluas di Paroki Wates. Bagian barat Wilayah Kokap berbatasan dengan Paroki Purworejo Keuskupan Purwokerto, bagian selatan berbatasan dengan Wilayah Temon, bagian utara berbatasan dengan Paroki Nanggulan, timur laut dengan Wilayah St. Philipus dan tenggara dengan Wilayah St. Fransiskus Xaverius.
Selain memiliki Kapel dan Taman doa, Wilayah Kokap yang sangat luas ini juga mencakup dua ikon wisata di Kulon Progo yaitu Waduk Sermo yang menawarkan Pemandangan Waduk dikelilingi dengan perbukitan hijau dan hutan, mengkadirkan suasana sejuk dan tenang, tempat yang ideal untuk healing. Lalu ada juga wisata alam Kalibiru yang meyuguhkan panorama hutan pinus yang hiaju, barisan perbukitan Menoreh serta pemandangan Waduk Sermo yang memesona.
Nah, setelah kita berpetualang di pegunungan Kokap dan Waduk Sermo, mari kita bergeser ke arah selatan, area pantai yaitu Wilayah St. Carolus Borromeus Temon. Wilayah Temon ini juga memiliki bangunan kapel sendiri yaitu Kapel St. Carolus Borromeus Temon, yang terletak di desa Sindutan Kapanewon Temon. Kapel ini memiliki sejarah yang unik karena Kapel ini berhasil dibangun pada saat paroki dikosongkan atau saat paroki tidak memiliki pastor paroki. Kapel ini diberkati pada tanggal 20 November 1983 oleh Rm. Ignasius Kuntara Wiryamartana, SJ. yang saat itu bertugas di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Sama halnya dengan Kapel Wilayah Kokap, Kapel di Wilayah Temon ini juga memililki Taman Doa yaitu Taman Doa Kerahiman Ilahi Temon. Jika Taman Doa di Kokap terbisah dari area Kapel, maka untuk Taman Doa di Temon ini berbeda, Taman Doa di Temon ini masih menyatu di area sekitaran kapel dan jaraknya sangat dekat dengan kapel. Perayaan Ekaristi di Kapel Wilayah Temon juga berbeda dari Wilayah Kokap, yaitu setiap hari Minggu jam setengah delapan pagi, sedangkan untuk Perayaan Ekaristi di Taman Doa kerahiman Ilahi Temon sendiri diadakan setiap malam Jumat Kliwon dan dimulai pada pukul enam sore.
Menurut Data Umat, Wilayah Temon ini memiliki jumlah umat yaitu 181 umat Katolik dengan 63 keluarga yang terbagi di tiga Lingkungan. Luas Wilayah Temon sendiri yaitu sekitar 44 km persegi, dan di bagian selatan berbatasan dengan Pantai Laut Selatan, bagian barat dengan Keuskupan Purwokerto, Bagian Utara dengan Wilayah Kokap, Timur Laut dengan Wilayah St. Fransiskus Xaverius, dan bagian Timur dengan Wilayah St, Pius X. Meskipun Wilayah Temon ini berbatasan dengan Pantai Selatan, namun bukan berarti mayoritas pekerjaan disini nelayan, umat di Wilayah Temon sendiri juga memiliki mata pencaharian yang beragam, malahan sangat sedikit umat di Wilayah Temon ini yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Wilayah Temon ini juga mencakup beberapa ikon di Kulon Progo, yang pertama adalah Pantai Glagah Indah yang cukup terkenal dengan Laguna yang berupa danau kecil alami di sisi pantai, terbentuk dari aliran air laut tetapi terjebak oleh pematang pasir. Tidak hanya ikon wisata, Wilayah Temon ini juga mencakup satu-satunya fasilitas transportasi udara di Yogyakarta yaitu Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Bandara ini sendiri mulai dibangun pada tahun 2017 dan mulia beroprasi sebagian pada tahun 2019 lalu pada tanggal 29 Maret 2020 bandara ini secara resmi menggantikan Bandara Adisutjipto. Letak bandara dan Kapel Wilayah Temon juga tidak terlalu jauh yaitu 4,3 Km.
Selain kapel-kapel yang dimiliki oleh kedua wilayah itu, Paroki Wates ini masih memiliki satu kapel lagi yang terletak di Lingkungan Santo Yohanes Kemaras dengan nama pelindung yang sama yaitu Kapel Santo Yohanes, dan karena letaknya di kemaras juga, maka kapel ini sering disebut Kapel St. Yohanes Kemaras. Kapel Santo Yohanes kemaras ini awal dibangun pada tahun 1995, bermula dari keinginan umat di Lingkungan yang berkeinginan keras memiliki kapel, bersama-sama dengan dukungan donatur dari berbagai sumber dan kerja bakti bersama-sama oleh umat dan warga sekitar yang bahkan non Katolik sebagai wujud toleransi hingga akhirnya berdirilah kapel ini. Kapel ini memang diperuntukkan untuk pelayanan Perayaan Ekaristi umat Kemaras karena jaraknya yang cukup jauh dari Paroki induk dan mayoritas umat di lingkungan kemaras yang kebanyakan sudah lanjut usia, bagi teman-teman yang ingin mengikuti Perayaan Ekaristi di kapel kemaras, jadwal Perayaan Ekaristi di kapel Santo Yohanes kemaras ini dilaksanakan setiap Minggu ke 2 pada pukul sebelas siang.
“Dari tambang mangan di Kliripan, dari ruang kelas sederhana di Hollandsche Cursus, hingga berdirinya gereja dan berkembangnya wilayah, Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates telah menorehkan perjalanan panjang iman. Kini, dengan ribuan umat, kapel-kapel, taman doa, dan persaudaraan yang hidup, paroki ini bukan sekadar pusat pelayanan rohani, melainkan juga rumah yang mempersatukan umat, budaya, dan masyarakat sekitar. Semoga Paroki Wates senantiasa menjadi tanda kasih Kristus, sumber pengharapan, dan berkat bagi siapa saja yang singgah, melangkah, dan berziarah di dalamnya.”